Kisah Lucu Soeharto part III "Ehm, Dasar Beo!"

Selamat pagi selamat siang selamat malam, salam sejahtera bagi anda-anda yang entah dimana hehe. Ok kali ini berkaspengetahuan.com akan melanjutkan kisah yang lucu unik dan menarik dari presiden kita yang ke-2, lanjutan dari kisah sebelumnya yaitu Kisah Lucu Soeharto part II Ok to the point saja langsung ke kisah part III nya, kita mulai kisahnya :)

Kisah Lucu Soeharto part III "Ehm, Dasar Beo!"

Selain kemegahan singgasana Soeharto di Jalan Cendana, ada sebuah keunikan yang terdapat dalam kemegahan tempat tinggal keluarga Soeharto tersebut, yaitu kepemilikan seeor burung. Tentu bukan burung biasa yang dipelihara oleh presiden kedua ini. Burung tersebut adalah burung beo yang sangat pandai menirukan manusia berbicara.

Dengan kepandaian tersebut, baik Soeharto maupun anggota keluarga lainnya mengajarkan kepada beo tersebut untuk melafalkan berbagai hal, di antaranya melafalkan kalimat salam, Pancasila, dan lagu kebangsaan. Ada pun yang selalu diucapkan oleh beo itu ketika melihat Soeharto adalah kalimat yang berbunyi, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia". 

Mayor Jendral TNI Issantoso, S.H., yang merupakan orang kepercayaan sekaligus audan Soeharto, menceritakan sebuah kisah lucu selapas Soeharto meletakkan jabatannya pada 21 Mei 1998. Seperti diketahui, setelah Soeharto mengundurkan diri, kursi kepresidenan dipegang oleh BJ. Habibie yang tidak lain merupakan wakilnya. Saat itu, setelah mengikuti upacara penyerahan kepemimpinan, Soeharto melintas di hadapan beo miliknya. Lalu, seperti biasa, beo itu pun berkata kepadanya, "Bapak Soeharto, Presiden Republik Indonesia". Sehingga, Soeharto menghentikan kembali langkahnya dan menjawab, "Habibie". Namun, beo tersebut justru kembali menyahut dengan kalimat yang sama, sehingga hal itu membuatnya tampak sedikit kesal. Kemudian, Soeharto mantap untuk beranjak pergi, tetapi dalam langkahnya yang pendek tersebut, terdengar Soeharto mengatakan dengan volume rendah. "Ehm, dasar beo!" Kejadian tersebut diakui para ajudan yang menyaksikan kejadian tersebut saling menahan tawa. 


Dikuti dari: Mati ketawa Cara Politisi - Mahawira Abimanyu

Click to comment